Revalusi Akademik, sst!

Saat ini masanya Da’wah Kampus melakukan REVOLUSI AKADEMIK, terhadap sistem penataan Da’wah, paradigma, semangat (spirit) , mentalitas, perhatian (concern) , kultur dan kebiasaan, serta perangkat pendukungnya, baik secara individu maupun sitstem yang bekerja didalamnya, agar da’wah yang sudah digariskan dapat berjalan secara seimbang, faktual dan kokoh serta berkelanjutan. Mengapa harus revolusi akademik, sarana apa yang bisa dipakai, kaidah yang perlu diperhatikan dan bagaimana langkah sistemiknya, berikut ini bahasannya.

Mengapa Revolusi Akademik.
Ada beberapa konsideran penting dan mendesak yang bukan lagi untuk didiskusikan, tetapi lebih kepada langkah taktis dan teknis yang harus dilakukan sehubungan dengan Revolusi Akademik ini, diantaranya :
Secara manhaji fungsi dakwah kampus yang belum tertangani dengan sistemik adalah fungsi akademik, selain yang telah mapan tarbiyah, dan yang nampak semakin mapan fungsi social politik.
Tantangan perguruan tinggi yang semakin pragmatis menuju dunia kerja dan masa kuliah yang semakin pendek dengan jadual yang padat, harus dijawab dengan amal khidamy di bidang akademik. Lagi pula prestasi akademik adalah nilai tertinggi yang mengikat dan menjadi kepentingan seluruh civitas akademika.
Tahap berikutnya pasca dakwah kampus adalah dakwah profesi baik itu sebagai akademisi, entrepreneur maupun professional. Selain fungsi dakwah kampus di bidang tarbiyah yang ditandai oleh terkelolanya lembaga-lembaga keagamaan di kampus, dan fungsi social politik yang ditandai oleh terkelolanya BEM/Senat Mahasiswa, pada tahap berikutnya dakwah kampus harus merambah ke himpunan-himpunan mahasiswa jurusan untuk meningkatkan kompetensi dibidang ilmu yang digelutinya dan membina jaringan profesinya sedini mungkin, selain meningkatkan skill dan kompetensi ilmiah setiap individu..
Kebutuhan dakwah di mihwar muasasi dan persiapan ke arah mihwar dauliy kelak sangat membutuhkan SDM, konsep, dan infrastruktur yang matang. Proses Islamisasi negara dan sebuah peradaban pada umumnya membutuhkan proses Islamisasi mulai dari tingkat normative, teory, hingga ke tingkat model-model aplikatif. Hal ini mau tidak mau, siap tidak siap, bisa tidak bisa harus dimulai dari fungsi akademik dakwah kampus.
Jaringan di dunia akademik tanpa tapal batas. Apabila berkembang ikatan, asosiasi, atau lembaga-lembaga atas dasar bidang akademik tertentu akan terjalin suatu “benang hijau” yang menjadi infrastruktur dakwah ditingkat ‘alamiy (internasional)

Beberapa Kaidah
Ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan secara seksama dari para penyelenggara da’wah kampus (semacam kaidah), agar Revolusi Akademik ini berjalan secara efektif dan efesien serta meminimalisir ekses yang mungkin terjadi dari sebuah perubahan dan reengineering da’wah kampus, diantara kaidah itu adalah :

1. Tidak Menjadi Bandul Pergerakan.
Belajar dari pengalaman yang pernah ada dan dilakukan dari proses da’wah kampus yang telah lampau, dimana menjadi kebiasan yang tidak baik dalam pergerakan da’wah kampus, selalu terjadi ketidakseimbangan sistem, baik tingkat distribusi SDM maupun performance kerja, dalam setiap perubahan dan ekspansi da’wah ke wilayah garap yang baru. Ini pernah terjadi ketika fungsi siyasi waktu itu baru dihembuskan urgensi dan kepentingannya. Maka banyak kampus mengalami bandul pergerakan yang tak seimbang, dimana para aktifis da’wahnya berbondong-bondong aktif berpartisipasi dalam aktifitas lembaga kemahasiswaan umum (bedol ikhwah) sehingga yang menjaga gawang peran dan fungsi da’awy tidak ada serta tidak menarik lagi, sehingga pembinaan (tarbiyah) dan syi’ar tidak berjalan sebagaimana mestinya. Walaupun kemudian recovery permasalahan ini cepat tertangani. Hal ini terjadi lantaran aktifis da’wah kampus terlalu kaget dengan kejutan-kejutan pergerakan yang memang sudah menjadi tabi’atnya senantiasa dinamis dan penuh pergerakan.

Revolusi Akademik yang didengungkan tidak harus memunculkan kejutan-kejutan pergerakan yang akan menyebabkan terganggunya sistem yang sudah berjalan. Disamping apa yang selama ini sudah berjalan (da’wiyah dan siyasiyah) tidak harus terbengkalai dengan adanya peneguhan dan perbaikan fungsi yang lainnya (fanniyah)

2. Spesialisasi Bukan Parsialisasi
Tiga peran dan fungsi yang telah digariskan dalam manhaj da’wah kampus sebenarnya hendak menjadikan mahasiswa dalam peran strategisnya itu menjadi gerakan yang dinamis dan masif, bukan pada upaya mengklasisfikasi, mengkotakkan peran dan fungsi apalagi kalau dipandang sebagai sebuah parsialisasi peran dan fungsi.
Ketiganya adalah peran dan fungsi umum yang harus dimainkan dan dimasifkan secara bersamaan sabagai sebuah komunitas dan indentitas. Walaupun pada kenyataannya dilapangan masing-masing peran dan fungsi tersebut menemukan wilayah dan kecenderungan yang berbeda terhadap berbagai jenis dan tipe orang. Akhirnya yang ada adalah sebuah upaya memberi jalan bagi kecenderungan yang lebih besar dari para aktifis da’wah sebagai spesialisasi peran dan fungsi yang dimilikinya. Tetapi ketiga tetap harus berjalan beriring bersamaan, tidak saling mengeliminasi.

3. Dari dalam keluar dan dari luar ke dalam
Revolusi Akademik ini, harus mampu melakukan mobilisasi pergerakan atas nama intelektualisme, kesegenap elemen dan masyarakat yang ada didalam kampus.Dalam hal ini mahasiswa muslim secara umum. Ada proses timbal balik antara aktifs da’wah dan masyarakat kampus yang ammah baik dosen maupun mahasiswanya. Misalnya, mentoring dan asistensi yang diperuntukan mahasiswa muslim diisi oleh dosen / mahasiswa dengan fasilitatornya aktifis da’wah. Atau membuka networking kerja –kerja ilmiah dan akademis, seperti asisten lab, asdos, penelitian dll, dengan para dosen potensial dsb.

Beberapa Sarana Revolusi Akademik

Ada banyak saran yang bisa dimanfaatkan oleh da’wah kampus dalam kaitannya dengan Revolusi Akedemik ini, diantaranya :
*> Menjadi asisten Dosen. Menjadi asisten Lab, Aktif dalam lembaga kemahasiswaan seprofesi. Mengikuti Lomba-lomba Ilmiah tingkat kampus, daerah, nasional dan regional
*>Aktif dalam seminar dan diskusi keilmuan. Terlibat dalam proyek-proyek penelitian yang didanai kampus. Mengadakan mentoring dan Asistensi Mata Kuliah. Terlibat dalam Kelompok Studi Ilmiah. Membangun jaringan profesi dan keilmiahan diluar kampus
*>Membuat mekanisme Reward and Punishment kepada aktifis da’wah dalam kaitan prestasi akademik. Dan lain-lain

Langkah-langkah Sistemik
Ada beberapa langkah penting yang harus dilakukan berkenaan dengan upaya mengaplikasikan Revolusi Akademik ini :

Sosialisasi

Gagasan yang sebenarnya bersumber dari manhaj da’wah kampus yang saat ini belum terperhatikan tersebut harus di sosialisasikan secara masif, bertahap dan terencana. Agar hal tersebut dapat dicerna dan dipahami secara seimbang untuk kemudian dijadikan sebagai sebuah agenda pergerakan yang nyata dilapangan. Hal ini pasti butuh waktu, karena mengubah dan memperbaiki paradigma dan mentalitas sebuah komunitas itu tidaklah mudah. Belum lagi upaya untuk tetap menjaga kestabilan lini lainnya.

Konsolidasi
Setelah gagasan diterima secara wajar, dan dipahami dengan baik, maka langkah taktis selanjutnya adalah, mengkonsolidasikan Barisan Orang-orang Pintar dan Dosen yang bisa mem-backup- dan kompeten terhadap permasalahan satu ini. Hal ini harus dilakukan selain untuk mem-backup juga memberi ruang da’wah yang luas , lebar dan besar bagi mereka yang memiliki kecenderungan pada soalan tersebut.

Membentuk Lajnah Khusus

Kemudian setelah itu , pengelola da’wah kampus menunjuk orang-orang atau institusi yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan Revolusi akademik di kampusnya masing-masing yang mendapatkan legitimasi serta pengakuan yang seimbang dengan sayap da’wah yang lain. Lajnah atau bagian inilah yang harus membuat sistem pengelolaan dan managerial sayap akademis ini, dalam bentuk perencanaan, supervisi pelaksanaan , dan evaluasinya.

Membangun Jaringan
Setelah Revolusi Akademik ini, telah berjalan dengan baik , maka upaya yang harus ditingkatkan adalah kepada pembangunan network dan relationship terhadap bidang dan bagian serta sarana yang berkaitan dengan hal ini.

Mengontrol Sistem
Da’wah kampus yang berjalan harus diperhatikan gejolak dan gejala yang terjadi pasca digulirkannya Revolusi Akademik ini. Agar tujuan asalnya untuk menyeimbangkan dan menyempurnakan da’wah kampus tercapai, bukan malah memunculkan permasalahan baru yang justru menyebabkan ketidakseimbangan serta ketidaksempurnaan baru.

One thought on “Revalusi Akademik, sst!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *