Seruni Alam : Mengingat Perjanjian

“…Alastu birabbikum. Qoluu balaa Syahidna…” (Al-A’raaf[7]:172)

Ada aqad dengan Robb. Dari dulu di bumi yang sama, begitu banyak wajah-wajah penuh janji, dengan ikrar dan sumpah kepada Rabbnya. Engkaulah raja kami, Engkaulah pencipta kami, Engkaulah pemberi rezki. Laa ilaha illallah.

Seperti juga hari ini. Ada milyaran jiwa yang mengumbar syahadah. Yang langit, bumi dan juga gunung-gunung tak kuasa memikul Mitsaqon gholizho itu sehingga mereka menolaknya. Tapi manusia, oh..alangkah beratnya.

Menangis diri terlahir sementara senyuman menyemburat dari sana family. Tapi tangis tetap hendak mengabarkan betapa berat amanah dari rabb. Abdullah dan khalifah dipundakkan. Tidak bisa tidak. Berharap diri kala kematian menjemput bisa tersenyum lantaran amal sholeh dan bakti pada sesama.

Allahu akbar menjadi kata perdana yang terlantun ke telinga. Agar kejadian luar biasa turut membatin. Allahu akbar. Azan dan iqomah mengingatkan akan perjanjian. Sholat setiap hari melanggegngkannya. Cukuplah. dengan mengingat perjanjian ini, diri ini tidak akan bermacam-macam dengan hidup. Yang semacam saja. Apalagi kata tarbawi, hidup tak mengenal siaran tunda.

Seruni Alam memanggil kita untuk beramal. <strong>Qod jaa’a Waqtul Amal. Sungguh telah datang waktunya beramal. Agar nanti di yaumil qiyamah kita tidak menagtakan Inna kunna an hadza ghofilin. Dan memohon serta meminta agar dikembalikan ke dunia lagi. sebbentar saja…sebentar saja. Na’mal Sholiha. Kami akan beramal sholih. Begitulah pinta orang yang tidak amanah dengan syahdahnya. Dangan penuh penyesalan. Inna muqinun. Sesungguhnya kami sudah yakin. Tapi sayang…seribu kali sayang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *