Berani Mempercayai

Mempercayai yang belum berpengalaman membutuhkan keberanian. Hampir semua peluang pekerjaan mensyaratakan yang berpengalaman. Ribuan masyarakat, pun juga mahasiswa menunggu pemberdayaan dirinya. Namun banyak institusi bangsa ini hanya percaya pada yang sudah jadi. Itupun kalau tidak terhalang oleh luasnya medan dan banyaknya hambatan. Ketika yang berpotensi tidak diajak, pada saatnya akan ada juga yang mengajak. Kalau bukan untuk kebaikan, tentulah kebathilan akan memanfaatkannya. Termasuk untuk memusuhi dakwah sekalipun.

Sayang, banyak pembunuh berdarah dingin yang mematimudakan kader dakwah. Kecurigaan, tuduhan dan pandangan tidak sehat. Ada jagoan tua yang tak malu-malu bertarung dengan kader muda yang baru belajar alif ba ta. Sekiranya mereka mau sedikit bersabar mendidik dan mempersiapaknnya, niscaya ia akan menjadi bintang yang terbit cemerlang.

Sementara zaman telah melumuri belia dakwah dengan noda-noda yang sangat kuat daya hambatnya bagi perkembangan kader. Siapa yang tidak tahu, betapa banyaknya orang cerdi k lagi pintar di bangsa ini.

Lihatlah. Setiap kali tampil kader dari satu kubu, kubu yang lain menggelar segudang cacatnya. Kedua ekstrem ini sangat merugikan. Ketika sejarah menjadi bakhil dan tak pernah peduli pada penantiannya  yang kian panjang akan sebuah perubahan.

One thought on “Berani Mempercayai

  • February 7, 2008 at 10:37 am
    Permalink

    Yang muda yang gak dipercaya.
    Belum tua belum boleh bicara

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *