Ayat-Ayat Cinta Yang Terlupa

Kampus Universitas Andalas tadi pagi bedah film Ayat-Ayat Cinta. Film yang diangkat dari novel Ayat-Ayat Cinta ini dibedah langsung oleh Hanung, sutradara film tersebut. Lumayan rame.

Yang menjadi sorotanku adalah tentang ke ironian yang terjadi. Ya, tentang ayat-ayat cinta itu. Sebelumnya, Novel Ayat-Ayat Cinta ini pernah berkali-kali ditawarkan ikhwan untuk aku baca. Setiap ditawari maka setiap itu pula aku takpenuhi. Maklum banyak kerjaan. Lagian, rasanya juga begitu banyak buku wajib yang harus ku baca ketimbang novel itu.

Paska mendengar dialog anak-anak elektro tentang novel Ayat-Ayat Cinta aku sedikit tergoda. Pasalnya yang ngomong itu adalah rekan-rekan (adik kelas) yang tak ku sangka-sangka ternyata telah membaca novel ayat-ayat cinta. Setahuku memang jarang kuliah, sering nongkrong plus mulut yang sering berasapa dengan rokok diantara dua jarinya. Katanya, ia begitu terinspirasi banyak hal dari novel itu. Menjadi ingin juga seperti Fahri yang kuliah di Mesir itu. Lintasan kata-kata itu tidak serta merta membuatku untuk mencari bukunya. Begitu juga kalimat ketakjubannya. Tapi semakin penasaran, memang. Sampailah ketika menunggu adik di wisma (pondokan mahasiswa), terletak novel itu dan aku pun mengambilnya. Aku membacanya dan…, sampai matapun turut berkaca. Bukan pada episode cintanya. Tapi pada ayat-ayat cintanya. Pada Alqur’an. Pada Kitab suci, mukjizat agung Nabi Saw. Allahu Akbar. Ya…AlQur’an itu. Saat alquran diceritakan. Ayat-Ayat Cinta yang sejati itu. Lantunan yang sejuk digambarkan. Kekhusyukan dalam membacanya. Kesantunannya pada guru. Ah, sampai pada hafalan-hafalan yang begitu kuat. Terjaga dan terpelihara. Terlebih digandengkan dengan lantunan yang teramat syahdu. Hati siapa yang tersentuh dengan Ayat-Ayat Cinta itu. Ya, membayangkan saja sudah luar biasa. Apalagi begitu melantun indah. Merefleksi pada diri. Ah Ayat-Ayat Cinta itu. Pantas saja nabi begitu pedih dan berurai air mata, manakala ummatnya menjadikan alqur’an sebagai suatu yang ditinggalkan. “Ya Rabbi, Inna qoumi attakhozu fii ha mahjuro”.

Duhai rabbi . Sungguh ummat ku menjadikan Al-Quran ini sebagai suatu yang ditinggalkan. Wahai orang yang terkesima menonton ayat-ayat cinta. Duhai jiwa yang tersentuh dengan novel ayat-ayat cinta. Sentuhlah kembali ayat-ayat itu. Sentuhlah Alqur’an. Rabbmu senatiasa menganugerahkan cinta itu. Cintailah ayat-ayat cinta itu. Jadikan Alqur’an itu seperti surat cinta dari Sang Kekasih. (Umar ra). Mestinya dengan membaca novel ayat-ayat cinta atau menonton filmnya, harus menambah kecintaan kepada Allah dan Rasul. Kepada Islam, kepada sesama, kepada tanah air. Kepada Siapa saja. Dan itu hanya bisa dilakukan oleh mereka-mereka yang tersentuh dengan ayat-ayat cinta yang sebenarnya. Al hayau fii dzilalil qur’an nikmat. Hidup dibawah naungan al Qur’an nikmat.

4 thoughts on “Ayat-Ayat Cinta Yang Terlupa

  • March 27, 2008 at 4:46 pm
    Permalink

    assalamu,alaikum da
    bener tu da…..
    knapa harus cintanya doank yang mesti ditonton kan….ayat nya nggakk-!!

    Reply
  • March 28, 2008 at 1:02 pm
    Permalink

    ana sepakat….sebenarnya ada baiknya filem itu juga. tetapi banyak hal yang menjadi catatan buruk ketika novel itu di film kan.
    Lengkap sudah hanyalan para aktivis Dakwah yang membaca novel. Sampai ada ikhwan yang komentar sungguh filem itu luar biasa (Nauzubillah) padahal banyak yang dalam binasa dan luarnya juga binasa. artinya filemnya itu jauh dari harapan untuk mendidik. Saatnya kita kembali kepada Ayat-Ayat CintaNya untuk keselamat dunia dan Akhirat.

    Reply
  • April 9, 2008 at 3:43 am
    Permalink

    asm,, bener bgt, bgamna kemasan yg dibuat bisa mengajak mendalami isi
    menurut ana itu yg perlu dilakukan saat ini; masyarakat indonesia hura-hura dalam hiburan

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *