Panitia Elight; Menghitung Hutang Mendulang Penyesalan

Sudahlah acara ndak mutu, urang indak banyak pulo nan datang. Sudah tuh, banyak utang pulo tuh. Yo ibo awak mandanga barita tu. Turut Berdukalah. Kalut buat panitia. Upss…Salut. Salut bana ko ha.

E-light, acara syukuran dan pelepasan wisudawan teknik elektro menelan hutang yang tidak sedikit. Kabarnya, panitia dan angkatan 2006 dan 2007 akan dimintakan infak sebebesar 7.000 per orang. Hal ini berdasarkan dialog yang terjadi di lantai satu jurusan teknik Elektro (23/4) siang tadi. Winda (bukan nama samaran) terdengar mengusulkan agar disegerakan untuk mengadakan rapat evaluasi. Karena sepertinya banyak yang perlu diselesaikan. Tanpak juga Yoki, ketua panitia yang –menyesali—cukup tenang menghadapi cobaan ini.

Banyaknya wisudawan yang tidak membayar iyuran menjadi alasan kekurangan dana. Selain itu banyaknya anggaran –untuk band, dekorasi, transportasi, konsumsi dan banyak lagi—mengeruk saku panitia. Kekurangan dana sementara ditanggung oleh panitia yang tidak mau disebutkan namanya.

Wisudawan yang hadirpun sedikit. Tidak meriah. Selain itu juga tidak mutu.Promosi panitia juga tidak optimal. Mana mungkin orang akan tertarik untuk hadir. Tambah lagi suatu yang substansi. Tidak bermanfaat, kecuali sedikit. Selebihnya gudangan masalah yang berbuntut pada peneyesalan.

Sadaralah Diak, Capeklah Gadang

Bila acara yang seperti itu semakin tidak populis dimata warga, jangan biarkan otak itu buntu. Berkutat dengan hal-hal dulu yang semakin tidak laku. Buang-buang watu, buang buang uang, buang-buang tenaga. Manfaatnya tidak ada, sekali lagi tidak ada kecuali sedikit. Selebihnya, PENYESALAN. Kalaupun bilang tidak, hati kecilmu tidak bisa dibohongi adikku. Berbicaralah jujur pada nurani. Berkatalah lembut pada hati. “maafkan aku wahai diriku, aku telah menyiksa diri’.

Rindukan Perubahan

Duhai adik. Kita selalu menyesali,t api tidak sepenuh hati. Kita sedikit membohongi diri. Apa kata orang dan apa kata orang. Seketika kita pun menghukum diri untuk berbuat sesuai dengan kata orang. Padahal hati kita mengingkari. Padahal semua hati juga mengingkari. Semua sudah sepakat yang demikian itu kurang bermanfaat. Lalu apalagi yang kita tunggu. Kalaupun ada, maka biarlah itu generasi yang berani dengan idealisme kebenarannya. Kebenaran yang tanpa sungkan-sungkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *