Presiden Komunitas

Hari ini (26/4) Hanif ditetapkan sebagai PRESIDEN MAHASISWA Keluarga Mahasiswa Universitas Andalas. Hanif Dwi Putra dinyatakan menang dalam Pemira KM Unand, 23 April Lalu, dengan perolehan suara sebanyak 2246 suara jauh meninggalkan kandidat lainnya.

Sementara calon yang lainnya, Febriardy 941 suara. Khalid Akbar 920 suara, dan 152 suara abstain. Total suara yang masuk sejumlah 4259 suara.

Rendahnya Partisipasi Mahasiswa

Dari dulu selalu begitu. Jumlah mahasiswa yang menggunakan hak pilihnya terlalu sedikit. Dari 15 ribuan mahasiswa Unand, hanya empat ribuan saja yang menggunakan haknya. Artinya tidak sampai 25 % dari total mahasiswa yang ada. Belum lagi kalau dihitung dengan mahasiswa ekstensi, tentunya mencapai angka 20 ribu. Menjadi berkurang partisipasi pilpres hanya seperlima saja. Jauh dan jauuuuuuuh sekali dari harapan banyak pihak.

Rendahnya partisipasi ini mestinya menjadi kajian. Realitas yang layak dipecahkan dan diocarikan solusinya. Karena menjadi kenyataan yang menyedihkan, lembaga mahasiswa (Lema) tidak begitu populis di mata mahasiswa sendiri. idak tahu dengan BEM itu apa, apalagi pejabat pemnerintahan negara mahasiswa itu. Inilah barangkali dilema si Lema. Dan sepertinya bukan hanya milik universitas Andalas saja. Lalu apa yang salah?

Analisanya penyebabnya bisa beragam. Mungkin itu datang dari mahasiswa pemilih sendiri dan mungkin juga dari pihak penyelenggara. BPU atau PPU tentu menjadi layak untuk dievaluasi. Dan bila itu kejadiannya selalu demikian dan ada kecendrungan terus berulang, apakah serta merta ini memang disebabkan perhatian mahasiswa terhadap lembaganya memang kurang. Bahkan nyaris tidak ada.

Kalau memang perhatian terhadap lembaga kurang, apa penyebabnya? Adakah itu disebabkan oleh lembaganya atau lagi-lagi dari mahasiswanya. Bagi yang ada dikepengurusan BEM akan menjawab dari mahasiswa itu sendiri. Namun dari masyarakat kampus, sepertinya wajar juga jika mempertanyakan atau mengevaluasi bagaimana BEM membina partisipasi politik mahasiswa internal dan eksternal kampus. Ini penting.
Berpikir tentang hal ini semakin menguatkan bahwa ‘kampus itu miniatur negara’. Negara mahasiswa mungkin saja mirip NKRI.

Bukan Presiden Komunitas

Hasil suara menunjukkan dukungan untuk masing-masing kandidat. Artinya jumlah suara yang untuk masing-masing kandidat menunjukkan Kapabilitas dan Akseptabilitas dari seorang calon presiden. Kemampuan dan wilayah penerimaan di mata civitas akademika khususnya mahasiswa. Dari sinilah kita bisa membaca, bahwa kecendrungan presiden terpilih adalah presiden yang mempunyai basis komunitas yang kuat.
Tapi ada yang perlu menjadi catatan kita bersama. Ketika salah satu kandidat sudah ditetapkan sebagai presiden, maka dia bukan lagi milik komunitasnya. Dia menjadi milik publik. Sehingga presiden sendiri perlu menset diri dan timnya memenuhi harapan dan tuntutan khalayak dan bukan hanya komunitas pendukungnya. Konsekwensinya, presiden merencanakan, mengoraganisir dan melaksanakan agenda-agenda kenegaraan sesuai dengan tuntutan dan harapan civitas, khalayak, masyarakat termasuk juga bangsa dan negara.
Semoga Presiden terpilih mampu mewujudkan harapan dan tuntutan banyak orang. Sehingga layak untuk dicintai dan dibanggakan. Bukan malah dihujat ataupun dicaci maki. Karena Presiden dipilih bukan dihujat ataupun dicaci. Tinggal lagi, presiden terpilih mengambil jalan yang mana. Menjadi presiden komunitasnya atau menjadi presiden civitas yang layak di cintai dan dibanggakan khalayak, itu terpulan pada presiden. Kehanifan presiden di nanti sentuhan dan jawabannya “Untuk Kedjadjaan Bangsa”.

One thought on “Presiden Komunitas

  • April 27, 2008 at 9:57 pm
    Permalink

    iyaaa selalu begitu.. sedikit yg nyoblos..

    krn mhs lain gak ngerasain pentingnya BEM kali ya…

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *