Bukan Teriakan Sang Demonstran

Kalau hanya sekedar demo, tukang becakpun (sekarang) bisa. Anak SD juga sudah bisa. Pemulungpun sudah pakar untuk sekedar teriak. Ya sudahlah. Sudah muak dengan demo-demo. Ayo mikir. Apa sebenarnya yang dibutuhkan bangsa ini. Di tengah kemelut yang menimpa, apa yang bisa dipersembahkan.

Demonstrasi sepertinya tidak lagi menjadi agenda yang mampu membuat orang simpati dan berempati–walau dulu juga begitu. Bahkan umpatan dan kesal dan kekecewaan justru mengalir dari masayarakat untuk Sang Demonstran. “Ndeh, lah demo pulo liak”. Itulah ungkapan ketidaksukaan masyarakat dengan demo. Artinya sedikit berbeda dengan kenyataan 10 tahun yang lalu. Mahasiswa yang berdemo nyaris disejajarkan dengan para pahlawan bangsa. Tapi untuk sekarang, rasanya tidak sampai demikian.

Negara ini butuh sesuatu yang lebih dari sekedar teriak. Lagipula tak ada masalah yang selesai dengan hanya teriak. Solusipun tidak hadir dengan hanya bersorak. Apalagi negeri ini terlanjur mengoleksi permasalahan –manangguang ragam–yang tidak sedikit.

Demo penolakan kenaikan BBM kiranya benar. Tapi menjadi tidak perlu untuk menumpahkan luka yang lebih banyak. Meski sekedar aksi dorong yang boleh jadi menguras energi, pun juga pikiran. Termasuk tekanan psikologis yang mampu melumpuhkan harapan, apalagi sampai terjatuh menjadi kurang waras. Tercampaklah jendela keluh dan ratap tangis.

Teriakan Sang Demonstrasi memang bisa membawa perubahan bagi bangsa ini. Tapi bukan solusi. Sepertinya demikian. Lalu, kenapa kita masih terjebak dengan demo-demo yang setiap hari. Setiap daerah memperagakan gaya baru dalam beraksi. Mahasiswa berlomba-lomba untuk beraksi. Meneriakkan apa yang harus diteriakkan.

Kita memang sudah berada pada alam keterbukaan. Bila ada yang terasa , sedikit leluasa untuk mengungkapkan walau bukan tanpa rintangan. Siapapun sudah bisa demo. Tapi rasanya bukan bisa demo setiap hari cita-cita reformasi 10 tahun yang lalu. Bukan juga cita-cita kemerdekaan berpuluh tahun tang lalu. Bukan juga cita-cita perjuangan beratus tahun yang lalu. Tidak pula impian dan harapan berjuta wajah yang turut andil mempersembahkan yang terbaik demi bangsa dan negara kita ini.

Sejenak Berhentilah

Berhentilah untuk sekedar berdemo. Negeri ini butuh refresh. Lusuh memang kain bendera. Sudahlah lusuh, ada luka jahitan disetiap jengkalnya. Sudah terbuka kran demokrasi memang, walau masih banyak yang terpasung di alam oenderitaan. Tapi sejarah memang bukan sekali usung. Dia adalah catatan perih yang berulang-ulang. Hingga kelak semua bisa mencicipi yang namanya keterkungkungan, seketika ia akan meledak menjadi dentuman waktu. Dan saat itu pulalah sejarah akan kembali memperagakan saat-saat transaksinya menukar kehidupan.

Sudahlah. Berhentilah agak sejenak. Berpikir lebih jernih, berbuat lebih nyata. Apalagi tak ada persoalan yang selesai dengan teriak. Lalu apa yang mestinya kita lakukan lagi?

Berpikir…

Sebab hanya akal-akal raksasa yang tercerahkan wahyu. Sebab hanya jiwa-jiwa besar dengan siraman cinta_Nya.

Alah Ma, Demo ka demo se taruih…!

Bajuang ka bajuang juo, baju den lah sakali-sakali :p

2 thoughts on “Bukan Teriakan Sang Demonstran

  • May 17, 2008 at 2:55 pm
    Permalink

    Afwan.. Bg memang kalo kita liat demo2 sekarang tidak banyak membuat perubahan. Tapi ada satu hal… kita sebagai mahasiswa hanya diajarkan berdemo untuk menujukan ketidak setujuan -sejarahpun demikian mengajarkan- Apakah tidak ada solusi yang lain yang dapat kita lakukan selain berdemo? Itu yang seharusnya jadi pertanyaan.

    Reply
  • May 18, 2008 at 11:23 pm
    Permalink

    I absolutely agree with your opinion

    Contoh kerugian atau kontradiksi dari dasar pikiran Demo BBM
    1. Bakar2 ban pake minyak kan? minimal bisa buat 2 keluarga masak air.
    2. Transportasi pake bus atau motor atau mobil pribadi.
    3. Demo khususnya di kota2 besar pasti bikin jalanan tambah macet. Ini membuat pemakaian BBM tambah boros.
    4. mahasiswa atau komunitas masyarakat yang melakukan demo pasti mengeuarkan dana untuk konsollidasi, properti dan lain2. Belum lagi ketidakproduktifan saat berdemo.
    5. Belum lagi akibat2 tidak langsung dari demo2 ini. Seperti liputan berita yang mengakibatkan orang2 jadi takut kehabisan stock BBM sehingga terjadi aksi borong BBM. Di tambah kenaikan harga2 sembako yang tanpa disadari juga akibat andil dari aksi demo.

    Kira2 berapa ratus kali demo yang terjadi akibat kenaikan BBM. Jumlahkan aja kerugian2 yang diakibatkan! Dari jumlah itu kira2 berapa yang dapat dihemat dan jika digunakan untuk membantu warga miskin berapa ribu keluarga yang terbantu?

    Mungkin saatnya kita mengubah atau lebih tepatnya memperbaiki pola pikir dalam merespon kebijakan2 yang kurang populer.
    Minimal Masyarakat khususnya mahasiswa lebih kreatif dalam menjalankan aksinya sehingga tidak justru merugikan dan aspirasinya tersalurkan

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *