Keasyikan Menangis

Jangan hanya mengejar keasyikan menangis. Terjebaklah mereka yang berhenti sampai di situ. Sebab tak ada kebahagiaan pada kesemuan penyesalan. Ataupun uraian air mata yang mengalir di pipi, jangan biarkan serta merta hanya beranak sungai. Sempurnakan ia dengan perubahan demi perubahan. Perlahan tapi penuh dengan kepastian. Menangislah dengan bahasa yang berbeda

Pernah ikut acara muhasabah, renungan suci atau yang sejenis dengan itu? Hmm… Sepertinya pernah. Atau kalau belum, minimal pernah dengar giman-gimananya. Umumnya, acara seperti itu diidentikkan dengan acara pake tangis-tangisan. Kalau tak ada tangisan di dalamnya, maka sering acara tersebut dinyatakan gagal.

Saat renungan suci, muhasabah atau semisalnya, tangisan boleh jadi indikator penyesalan. Panitia sontak merasa sukses dan berhasil bila melihat para peserta berlinangan air mata. Apalagi banyak yang menganut keyakinan bahwa, penyesalan sejati kerap ditandai dengan deraian air mata. Sehingga tak jarang dibuatlah suatu cara atau rekayasa bagaiamana supaya tangisan itu mengalir begitu derasnya.

Namun sangat disayangkan bila air mata hanya sampai di pipi. Sangat disayangkan bila tak mengalir bersama aliran darah. Menjadi sedikit sia-sia bila hanya di ruang acara. Apalagi tangisan itu berlangsung hanya sekejap saja. Tanpa ada perpanjangan waktu untuk semakin menikmati keasyikan menangis dalam bahasa yang berbeda. Sebab ada bahasa tangisan bertenaga tanpa harus mengeluarkan air mata. Dialah perbuatan. Itulah amalan di keseharian kita. Selamat menangis yang lebih bermakna.

Susahnya Menangis
Mencucurkan air mata begitu susah bagi sebagaian orang. Seperti begitu mudahnya bagian sebagian yang lainnya untuk menggenangi pipinya dengan air yang bersimbah-simbah. Memang menangis terkadang begitu sulitnya. Apalagi bagi mereka penganut bahwa menangis itu adalah aib. Atau mungkin saja aib bila menangis. Apalagi sudah terdoktrin dari kecil “tidak boleh menangis”. Sehingga begitu ingin menasngis, air mata tak kunjung tumpah.

Sesekali menangis itu perlu. “Menangislah agar tangisan itu dapat mengingatkan kita pada hari-hari mati. Yang pasti akan datang, tanpa bertanya usia. Siapa kita di belantara hidup ini” (Raihan). Tapi menangislah dengan seluruh jiwa raga. Bukan hanya dengan air mata yang tumpah. Agar semangat perubahan menjadi sempurna. Bukan hanya dengan air mata.

(Salam untuk mahasiswa baru dan FOSMA ESQ)

One thought on “Keasyikan Menangis

  • September 7, 2008 at 4:15 pm
    Permalink

    saya setuju mas …. dan bagi saya menangis itu adalah curhat kepada alam …

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *