Potret Kegelisahan Kita

Akibatnya pentas sejarah mahasiswa tidak selamanya diiringi tepuk tangan, tidak selalu dihiasi dengan apresiasi positif masyarakat, apalagi bangsa dan negara. Bahkan belakangan ini justru kekecewaan yang menghampiri. Sebagian oknum mahasiswa berulah dan menodai nilai tinggi mahasiswa. Dan sepertinya melanda banyak kampus-kampus di negeri ini.

Melihat kondisi ril mahasiswa hari ini, adalah kegelisahan yang beralasan. Prof. DR. H. Yaswirman, MA dalam khutbah Jum’at tadi (21/11) di Masjid Nurul Ilmu Universitas Andalas mengurainya. Lengkap dengan kejadian dan peristiwanya. Semakin terenyuh kita, ketika kenyataan itu memang terbentang jelas di hadapan mata. Realitas social mahasiswa menyisakan kegelisahan yang teramat. Sebagiannya semakin berlari meninggalkan dunia—mahasiswa–nya. Tercabut dari jati dirinya sebagai insan akademis atau seabreg peran dan heroisme yang pernah diagungkan atasnya. Duh, mahasiswa.


Akibatnya pentas sejarah mahasiswa tidak selamanya diiringi tepuk tangan, tidak selalu dihiasi dengan apresiasi positif masyarakat, apalagi bangsa dan negara. Bahkan belakangan ini justru kekecewaan yang menghampiri. Sebagian oknum mahasiswa berulah dan menodai nilai tinggi mahasiswa. Dan sepertinya melanda banyak kampus-kampus di negeri ini.

Ada yang kedapatan berindehoi (ini bahasa media lho) di kost-kost an mereka. Ngakunya kakak dari kampung, taunya ee…taunya. Busyet. Tapi ada juga di kampus lho. Gedubrak..! Nah lho. Ada mahasiswa yang hamil tanpa ikatan pernikahan. Sebagiannya melakukan aborsi. Ada juga yang ketahuan ‘nyimeng’. Beberapa diantaranya belajar mandiri menjadi distributor sekaligus konsumennya. Ada juga yang tiap malam latihan konser dengan berteriak lewat polusi suara di nyanyian malam mereka. Dan banyak lagi. (Maaf bukannya kurang ilmiah tanpa data. Setidaknya benar juga. Tapi bukan menggunkan kirologi. Masih bisa rasanya menyebut beberapa contoh di sekitar kita)

Lihat pula kampus. Ternyata kondisinya, naudzubillah. Kontras kondisinya dengan shubuh hari. Bila shubuh hari kita saksikan wajah-wajah teduh jamaah shubuh mahasiswa asrama. Tapi sayang, berubah drastic manakala pagi menjelang. Saksikanlah mahasiswi yang memegang erat pinggul kekasihnya (Kata Cak Nun). Frekuensinya sudah mencapai angka yang rasanya sangat lelah kita menghitungnya. Padahal laju kendaraannya 20 km/jam namun dengan pelukannya 100 km/jam (Kalau yang ini kata Pak Izharman, MAg). Ada ruang kuliah yang dijadikan tempat mesum. Ups, sorry. Pak satpam sepertinya lebih mengerti.

Nah ini hanyalah segelintir yang diketahui saja. Bagaimana yang tidak. Kata orang seperti fenomena gunung es. Butuh penelitian secara ilmiah memang. Tapi hati kita semakin berkata. Naudzubillah summa naudzu billah.

Yuk ambil peran. Perbaiki diri dan serulah orang lain. “Ashlih nafsaka, wad’u ghoiraka”

One thought on “Potret Kegelisahan Kita

  • November 22, 2008 at 5:39 pm
    Permalink

    benar, untuk kasus seperti ini tidak butuh lagi data yg konkrit namun ada di depan kita, tinggal kita bertanya, peran apa yg akan kita mainkan? hhmm.. fiuh..

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *