Sinkronisasi dan Slip Bakda

Sinkronisasi dan Slip Bakda

Hari ini kuliah jam tujuh pagi. Tidak seperti biasa, pukul 06.30.  Lebih lambat setengah jam. Kendati sudah ditunda 30 menit, tetap saja ada yang terlambat. Beruntung Pak Sigit tidak ‘memberi taushiyah’ seperti minggu pertama dan kedua.

Bedanya, hari ini beliau menandai di buku absen urutan kedatangan. Yang datang paling awal ditandai dengan angka satu di kolom namanya. Yang datang pada urutan kedua, ditandai angka dua di kolom namanya, dan begitu seterusnya. Untuk apa? Wallahu’alam. Kalau yang ini, fa’tabiru yaa ulil abshor saja.

Salapan itu Sembilan

Alhamdulillah, saya tidak telat. Kedatangan urutan dalapan. Ya, dalapan. Bukan salapan. Karena salapan di sini (Sunda) artinya sembilan. Berbeda dengan bahasa ibu saya yang mengartikan salapan itu dengan delapan. Ini pula yang membuat saya pernah menunggu lama kembalian belanja 1000 rupiah, tapi tak juga saya dapatkan.

“sabaraha Aa?”

“Salapan belas ribu”

Saya memberikan uang IDR 20.000 dengan kembalian seribu. Dan sayapun menunggu kembalian yang seribu lagi. Ya, gara-gara itu tadi. Salapan belas ribu saya kira delapan belas ribu. Padahal salapan itu sembilan. Weleh-weleh. Untung saja sembilan itu tidak sepuluh. 😉

Sinkronisasi Waktu

Jam dinding di telmat 3 sudah menunjukkan pukul tujuh. Pak Sigit melihat ke jam dinding dan membandingkan dengan jam tangannya. “Susah jam ini. Standarnya beda-beda. Di jam saya belum jam tujuh, di sini sudah lewat. Bagaimana ini?” Kami seisi Telmat 3, penggemar kuliah Kehandalan QoS serius memperhatikan Pak Sigit. Itu pertanda ada pandangan beliau terhadap suatu masalah. Dan biasanya khas, gaya pak Sigit.

Kali ini tentang waktu. Bukan bab tepat waktu, tapi tentang standarisasi waktu.

Dulu hanya ada TVRI. Jadi semuanya menyesuaikan. Tidak ada yang bikin standar sendiri. Kalau sekarang, jangan ditanya. Yang ini beda, yang ini lain lagi. Yang ini sudah jam tujuh, yang ini belum. Tidak sama antara yang satu dengan yang lainnya. Hal ini penting bagi enjiner. Makanya di telekomunikasi ada instilah master clock untuk keperluan sinkronisasi. Ketelitiannya mencapai 10 pangkat 19. Semuanya mengacu kepada master clock. Apalagi dengan era digital. Kalau tidak demikian, tentu saja bisa terjadi slip. Berbeda antara yang satu dengan yang lain. Jadinya tidak sinkron. Kalau tidak sinkron, ya bahaya untuk sebuah system.

Ketika saya konversi ke Islam, waktu sholat adalah sinkronisasi waktu yang hebat untuk segala aktifitas.

Waktu sholat juga dijadikan sebagai metode sinkronisasi waktu. Waktu sholat menjadi parameter penjadwalan suatu acara, program, kegiatan, janji ketemuan dan lain sebagainya. Istilah bakda magrib, bakda isya kerap melekat dalam rencana janjian seorang muslim. Kalau janjiannya bakda maghrib di Salman, itu artinya sholat maghrib berjamaah di Salman dan setelahnya baru acara memenuhi janjian. Karena seorang muslim tentu saja dia sholat. Dan sholat adalah kewajiban yang sudah ditentukan waktunya.

Slip Bakda

Sholat adalah keniscayaan bagi yang muslim. Sholat pembeda yang muslim dengan yang kafir. Sholat isya dan shubuh pembeda yang beriman dengan yang munafik. “terasa berat bagi orang munafik sholat isya dan sholat shubuh. Sekiranya mereka mengetahui fadhilahnya, mereka akan pergi ke masjid kendatipun dalam keadaan merangkak”.

Masalahnya justru ketika sholat tidak dijadikan acuan sinkronisasi penjadwalan. Ataupun keliru memaknai bakda. Bakda magrib tidak sama dengan setelah maghrib. Sebab waktu isya adalah setelah magrib. Tapi tidak bisa dikatakan, waktu isya adalah bakda maghrib. Bakda maghrib artinya maghrib di tempat janjian. Maka masjid menjadi tempat yang menyenangkan untuk bertemu, silaturrahim, diskusi, syuro, ataupun bicara strategi. Jadi apapun kegiatannya, sholat sebagai sinkronisasi penjadwalannya. Tak ada rapat di jadwal sholat. Tak ada liqoat apalagi sudah iqomat. Tidak ada kuliah ketika saatnya ibadah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *