Di Mana Ada Jalan, Di Situ Ada Usaha

Di Mana Ada Jalan, Di Situ Ada Usaha

Maaf, Parkir Penuh. Itu tulisan di depan parkir SR. Tempat saya biasa parkir. Sebelumnya parkir di belakang masuk dari Jalan Dayang Sumbi yang lebih dekat dari tempat tinggal. Tapi semenjak parkir belakang di tutup, banyak pemilik kendaraan yang kehilangan tempat parkir. Kesempatan ini menjadi peluang usaha baru bagi para pengusaha parkir.  “Di mana ada jalan di situ ada USAHA”. Beda dengan jargon penyemangat hidup “Di mana ada usaha di situ ada jalan”.

Dari ada jalan itu, ada usaha. Begitu Parkir SR Penuh saya tetap masuk, karena saya melihat ada 3 sepeda motor yang keluar. Tapi petugas mencegat saya. “Itu ada yang keluar Mas”, imbuh saya dengan harapan bisa masuk. Tapi petugas mengatakan, “Baru saja di tutup Mas”.

Saya memutar REVO biru menuju Parkir Salman. Dan seperti dugaan, penuh. Pilihan ke Parkir dekat Taman Sari atau area sipil, terlalu jauh. Parkir dekat jalan di Salman menjadi pilihan. Parkir di sana yang saya dapati ;

  1. Parkirnya di atas trotoar yang tempat orang berjalan, biar dapat banyak sepertinya.
  2. Parkirnya bayar duluan, jadi nanti pas pulang tinggal motor kita saja, tanpa tukang parkir. Ini bukan prasangka. Pernah terjadi seperti ini. 
  3. Parkirnya 2000, padahal biasanya cuma 1000 Rupiah. Nah, lho. 

Lengkap sudah. Parkir di trotoal, bayar duluan, sudah gitu mahal lagi. “Protes tapi nurut”. Ya, begitulah. Tukang parkirnya kalem.

Parkir Bayar DuluMemang “Dimana Ada Jalan, Di Situ Ada Usaha”. Apalagi ditambah dengan peluang yang semakin besar dengan ditutunya parkir belakang. Berani menetapkan harganya Rp. 2000,-. Padahal harusnya cuma Rp. 500 menurut Perda. Wah…wah.

Lalu apa usaha? Cepat datang ke kampus mungkin. Kemudian bisa juga booking parkir bulanan. Seperti rekan saya dengan booking parkir dengan bayaran khusus. Yang lebih utama dari itu semua adalah menertibkan pengusaha jalanan. Kalau hal ini berhubungan dengan kebijakan pemerintah dan pelaksanaan dari kebijakan. Tapi apa mahasiswa sudah tidak punya kekuatan untuk itu? Pun juga kebijakan kampus dengan menutup parkir belakang hanya diam? Hmm. Di sini jiwa berotak bisa juga menggejolak. 😀

Tapi apapun itu, sempitnya lahan parkir ITB, sudah membuka peluang bagi tumbuhnya usaha-usaha kecil dan menengah. Kalut Abis.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *