Pengendara di Punggung Usia

Manusia hanyalah pengendara di atas punggung usianya. Digulung hari demi hari, bulan dan tahun tanpa terasa. Nafas terus berhembus seiring perjalanan waktu, setia menuntun ke pintu kematian. Dunialah yang makin dijauhi dan liang kubur  kian didekati.

Menuntun ke pintu kematian

Satu hari berlalu, satu hari berkurangnya usia. Umur yang tersisa, sungguh begitu berharga.  Tapi hidup hanyalah hari ini. Sebab esok belum tentu dijumpai. Sementara kemarin tak bisa dijemput lagi.

Karenanya, jika hari berlalu dengan tiada kebaikan di dalamnya, makin keringlah rohani. Makin kerontanglah jiwa. Usah tertipu dengan usia muda, karena syarat mati tidaklah harus tua. Jangan terperdaya dengan badan sehat, karena syarat mati tidak pula harus sakit.  Teruslah berbuat baik. Mengendara di punggung usia dari kebaikan yang satu ke kebaikan yang lainnya.

Kematian Muara Manusia

Berbekallah untuk hari yang sudah pasti
Sungguh kematian adalah muara manusia
Relakah dirimu
Menyertai segolongan orang
Mereka membawa bekal
sedangkan tanganmu hampa

Rosululloh bersabda
Perbanyaklah mengingat
Akan pemusnah segala kenikmatan dunia
Itulah kematian yang kan pasti datang
Kita tahu kapan waktunya kan menjelang

Menangislah hai sahabat karena takut kan Allah
Niscaya engkaukan berada dalam Naungannya
dihari kiamat disaat tiada naungan untuk manusi selain naunganNya
Dalam ampunanNya dalam maghfirahNya
Dosapun berguguran, bak dau dari pepohonan

Syair ini kembali menerbangkan diri ke masa yang jauh. Mengingat kenangan lama dalam kesyahduan syair-syair yang menyejukkan. Lebih dari itu, menyadarkan. Mengajak kepada alam perenungan. Dzikrullah. Dzikrul Maut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *